Mereka mati. Lima puluh empat manusia itu kaku setelah kehabisan nafas di dalam sebuah kontainer pendingin pengangkut ikan. Mereka mati dalam perjalanan dari Myanmar ke Pukhet (Thailand).
Saya lama tercekat setelah membaca berita ini dengan foto-foto manusia tak bernyawa yang tergeletak begitu saja di koridor sebuah rumah sakit.
Mereka mati ketika keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di negeri tetangga diterobos dengan taruhan nyawa sendiri. Ketika harapan di tanah kelahiran sendiri kian pudar atau bahkan tak ada harapan sama sekali. Dan harapan itu ternyata mereka dapatkan, ya, di akhirat.
Mengapa harapan untuk hidup lebih baik itu seperti benda yang sangat langka di tanah sendiri? Banyak alternatif jawaban. Salah satunya adalah Sang Penguasa yang sangat zalim bin zalim lah penyebabnya. Penguasa yang lebih suka melihat perut sendiri makin buncit dan buncit sementara orang-orang yang di bawah kekuasaannya dirampas, dirampok, diperkosa, dan dimatikan segala atribut kemanusiaannya.
Cerita di tanah Myanmar bukan cerita baru lagi. Dan ini adalah salah satu contoh nyata dari kenyataan-kenyataan menyedihkan lainnya, memerihkan. Manusia menindas manusia. Sebuah kejahatan yang sangat purba.
Sunday, April 13, 2008
Friday, April 11, 2008
sampai berbusa
cakaplah sampai berbusa, walau tak seorangpun yang mendengar. paling-paling anda atau saya akan dicap gila.
Subscribe to:
Posts (Atom)
